Berita Harga USD/INR: Rupee Stabil di Dekat 81,60 dengan Perhatikan PDB India, Ketua The Fed Powell
- USD/INR tetap berada dalam kisaran ketat, memperbarui terendah dalam perdagangan harian akhir-akhir ini.
- Ekspektasi pertumbuhan India yang lebih lambat, komentar-komentar hawkish dari Ketua The Fed Powell membuat para pembeli tetap optimis.
- Optimisme pasar terkait Tiongkok berlawanan dengan data aktivitas suram dari negara naga tersebut.
- Perubahan Ketenagakerjaan ADP AS, pembacaan kedua PDB AS Kuartal 3 juga akan menjadi penting untuk petunjuk arah yang jelas.
USD/INR dengan tepat menggambarkan kecemasan pra-data di sekitar 81,60 selama awal hari Rabu karena para pedagang menunggu sejumlah katalis utama dari India dan AS. Yang juga mungkin telah menantang pergerakan USD/INR adalah sinyal beragam baru-baru ini dari Tiongkok.
Angka aktivitas Tiongkok yang suram berlawanan dengan harapan untuk meredakan masalah Covid menantang para pedagang di sesi Asia. Dengan itu, IMP Manufaktur NBS resmi Tiongkok turun ke 48,0 versus 49,2 yang diharapkan dan 49,0 sebelumnya. Perincian lebih lanjut menyebutkan bahwa IMP Non-Manufaktur juga merosot ke 46,7 dari 48,7 sebelumnya dan 51,7 yang diharapkan.
Di tempat lain, Beijing mengumumkan beberapa langkah untuk meringankan karantina ketat di area-area utama setelah menyaksikan penurunan jumlah harian penularan Covid dari rekor tertinggi. Meski begitu, ekonomi terbesar kedua di dunia ini mempertahankan kebijakan Nol-Covid-nya tetap utuh. Bloomberg melaporkan pembukaan kembali beberapa bangunan kota di wilayah Zhengzhou yang lebih besar, pusat pabrik utama iPhone. Sebelumnya pada hari Selasa, tersiar kabar bahwa provinsi Guangdong Tiongkok akan mengizinkan kontak dekat kasus Covid untuk dikarantina di rumah.
Di halaman yang berbeda, harga minyak yang lebih kuat dan arus masuk asing yang kuat juga tampaknya membatasi pergerakan USD/INR.
Minyak mentah WTI mempertahankan pemulihan terbaru dari level terendah tahunan sambil mencetak kenaikan tipis di sekitar $79,00 pada saat berita ini ditulis. Ketergantungan India pada impor energi dan rekor Defisit Transaksi Berjalan (CAD) membuat Rupee India (INR) berisiko terhadap pergerakan harga Minyak.
Sebaliknua, Reuters mengutip prospek pertumbuhan yang optimis akan menandai arus masuk dana asing yang deras dan mendukung para penjual USD/INR. "Prospek pertumbuhan India yang kuat telah mendorong kebangkitan kembali investor asing yang kembali ke ekuitas domestik. Sejauh bulan ini, para investor luar negeri telah membeli lebih dari $4 miliar saham India," kata berita tersebut.
Selain itu, pergerakan pasar yang lamban, seperti yang dicatatkan oleh Kontrak Berjangka S&P 500 yang tidak aktif dan pergerakan beragam di sesi Asia, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tertekan, menantang para pedagang momentum USD/INR.
Selanjutnya, Produk Domestik Bruto (PDB) India untuk kuartal Juli-September kemungkinan akan menjadi kunci bagi para pedagang pasangan USD/INR menjelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell. Jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa ekonomi kemungkinan kembali ke tingkat pertumbuhan tahunan 6,2% yang lebih normal pada Juli-September setelah ekspansi dua digit pada kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, ekspektasi hawkish dari Ketua The Fed Powell muncul sebagai rintangan bagi harga. Selain itu, yang juga penting adalah sinyal awal untuk Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat pada hari Jumat, yaitu Perubahan Ketenagakerjaan ADP untuk bulan November, serta pembacaan kedua dari Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat untuk kuartal ketiga (Q3). Prakiraan menunjukkan bahwa Perubahan Ketenagakerjaan ADP AS untuk bulan November diprakirakan akan mencapai 200 ribu versus 239 ribu sebelumnya sementara PDB AS Kuartal 3 dapat mengkonfirmasi prakiraan pendahuluan pertumbuhan tahunan 2,6%.
Analisis Teknis
Dilepaskannya posisi beli secara bertahap dari rintangan 50-DMA, saat ini di sekitar 81,90, mendukung para penjual USD/INR.