WTI Turun Tipis Dekati $72,30 Meskipun AS dan Inggris Melakukan Serangan Udara terhadap Houthi

  • Harga minyak WTI memangkas kenaikan dalam perdagangan harian meskipun ada peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
  • Amerika Serikat dan Inggris melakukan serangan udara baru terhadap kelompok militan Houthi di Yaman pada hari Sabtu.
  • Penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, memprakirakan kemungkinan serangan ke wilayah Iran.
  • Harga minyak mentah menghadapi tantangan setelah rilis data tenaga kerja AS yang solid pada hari Jumat.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berjuang untuk menghentikan penurunan tiga hari berturut-turut pada hari Senin. Harga minyak mentah telah memangkas kenaikan mereka dalam perdagangan harian meskipun ada peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, di mana Amerika Serikat (AS) dan Inggris melakukan serangan udara baru terhadap kelompok militan Houthi yang didukung Iran di Yaman pada hari Sabtu. Saat ini, harga minyak WTI diperdagangkan di kisaran $72,30 per barel selama sesi Asia.

Serangan terbaru ini merupakan respon dari serangan pesawat tak berawak yang mengakibatkan tewasnya tiga anggota militer AS di Yordania. Sebagai pembalasan, pemberontak Houthi Yaman telah bersumpah untuk memperpanjang operasi militer mereka. Sementara itu, penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, memperingatkan pada hari Ahad bahwa serangan udara AS terhadap milisi yang didukung Iran di Timur Tengah hanyalah permulaan dari sebuah respon yang berkelanjutan. Sullivan tidak menutup kemungkinan akan adanya serangan ke wilayah Iran.

Data pekerjaan yang sangat baik dari Amerika Serikat (AS) telah mengurangi kemungkinan penurunan suku bunga di bulan Maret oleh Federal Reserve. Prospek kenaikan suku bunga dapat memberi efek peredam pada pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak di negara-negara besar, yang menyebabkan penurunan harga minyak mentah.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) diprakirakan akan menghadapi tantangan jangka panjang pada tahun 2024 dan 2025. Tantangan ini berasal dari upaya OPEC+ untuk mengurangi pasokan global dengan menerapkan kuota produksi yang ketat pada negara-negara anggota. Namun, yang menjadi perhatian adalah bahwa produsen non-OPEC, termasuk Amerika Serikat, berpotensi melampaui pengurangan pasokan OPEC+ dan menyebabkan pasar global kelebihan pasokan.

 

NZD/USD Pulih Beberapa Pip dari Level Terendah Sejak November, Masih Belum Aman

Pasangan NZD/USD memulai pekan baru dengan catatan suram dan turun ke area 0,6050-0,6045, atau level terendah sejak 24 November selama sesi Asia. Namu
Baca lagi Previous

Produk Domestik Bruto (Krtl/Krtl) Indonesia 4Q di atas harapan 0.41%: Aktual (0.45%)

Produk Domestik Bruto (Krtl/Krtl) Indonesia 4Q di atas harapan 0.41%: Aktual (0.45%)
Baca lagi Next