GBP/JPY Menghentikan Kenaikan Beruntun ke 190,80 Setelah Data IHK Jepang
- GBP/JPY melemah setelah rilis data IHK Jepang pada hari Selasa.
- Pound Sterling mendapat dukungan kenaikan karena spekulasi mengenai penundaan penurunan suku bunga BoE
- IHK Jepang (YoY) tumbuh 2,2% dibandingkan dengan pertumbuhan sebelumnya sebesar 2,6%.
GBP/JPY menghentikan kenaikan beruntun yang dimulai pada 20 Februari, turun tipis mendekati 190,80 selama sesi Asia pada hari Selasa. Namun, muncul spekulasi mengenai potensi penundaan penurunan suku bunga menyusul testimoni Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey dan para pembuat kebijakan lainnya kepada Komite Keuangan Inggris pekan lalu. Bailey menyebutkan bahwa meskipun ia tidak dapat memprakirakan jumlah pasti dari pemangkasan suku bunga, bank tersebut bergerak menuju jalur penurunan suku bunga. Spekulasi ini telah mengangkat Pound Sterling (GBP) terhadap Yen Jepang (JPY).
Gubernur Bailey juga menekankan bahwa Bank of England telah beralih dari fokus pada penentuan keketatan kebijakan dan tingkat suku bunga yang diperlukan menjadi mempertimbangkan berapa lama bank sentral perlu mempertahankan sikap ini untuk mencapai inflasi yang berkelanjutan. Menyusul keputusan BoE awal bulan ini untuk mempertahankan suku bunga stabil di 5,25%, pasar telah memperhitungkan ekspektasi untuk penurunan suku bunga sebanyak empat kali hingga akhir tahun.
Namun, Yen Jepang (JPY) berhasil menarik beberapa pembeli. Data inflasi konsumen Jepang memperbaharui ekspektasi akan adanya potensi penyesuaian pada kebijakan Bank of Japan (BoJ), membuat para investor berhati-hati. Selain itu, intervensi verbal baru-baru ini oleh otoritas Jepang dapat mendukung JPY.
Pada bulan Januari, Indeks Harga Konsumen (IHK) Nasional Jepang tumbuh sebesar 2,2% secara tahunan, sedikit lebih rendah dari pertumbuhan sebelumnya sebesar 2,6%. Selain itu, IHK Inti (YoY) meningkat 3,5%, turun dari 3,7% sebelumnya. Para trader saat ini menantikan data Perdagangan Ritel untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut mengenai lanskap ekonomi Jepang.