USD/IDR Lanjutkan Penurunan, Katrol Rupiah ke 15.574, Tunggu Laporan Survei Konsumen BI dan Penjualan Ritel AS

  • USD/IDR melanjutkan pelemahannya pagi ini ke 15.574.
  • Dolar AS cenderung menguat karena ketidakpastian akan pemangkasan suku bunga The Fed meningkat akibat Inflasi di AS masih alot.
  • Para pedagang akan memantau Laporan Survei Konsumen BI hari ini dan Penjualan Ritel AS di hari Kamis untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut.
  • Harga USD/IDR harus melampaui level Fibonacci Retracement 61,8% di 15.557 agar bisa melanjutkan penurunan.

Setelah libur selama dua hari di Indonesia pada pekan ini, USD/IDR melanjutkan pelemahannya. Penumpukan pesanan sejak Jumat lalu mendesak pasangan mata uang tersebut, dan pada saat berita ini ditulis, nilai tukar Rupiah mencapai 15.574 per Dolar AS. Pasangan mata uang tersebut sejauh ini telah mencetak tertinggi di 15.599 dan terendah di 15.559. Semalam, Dolar AS (USD) yang diukur oleh Indeks Dolar AS, sedikit menguat bersama imbal hasil obligasi pemerintah AS yang bergerak lebih tinggi setelah rilis data Inflasi AS.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan pada hari Selasa (12/02/2024), Inflasi di AS, yang diukur dengan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) di bulan Februari, naik ke 3,2% pada basis tahunan dari 3,1% di bulan Januari. IHK Inti Tahunan, tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, naik 3,8% pada periode yang sama, lebih rendah dari kenaikan pada bulan Januari di 3,9%, namun di atas prakiraan pasar 3,7%. Secara bulanan, IHK dan IHK Inti sama-sama naik ke 0,4%.

Segera setelah data-data tersebut dirilis, Indeks Dolar AS (DXY) naik sedikit lebih tinggi ke 102,93. Dan pada pagi hari di sesi Asia, DXY masih berada di sekitar 102,90. Data inflasi yang lebih tinggi dari prakiraan, kemungkinan akan menyebabkan para pengambil kebijakan Federal Reserve tidak tergesa-gesa untuk menurunkan suku bunganya, dan mereka mungkin akan menegaskan kembali bahwa inflasi masih belum bisa diatasi. Berdasarkan hal tersebut, Dolar AS bisa menguat karena suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama akan menarik lebih banyak arus masuk modal asing, sehingga dapat menyebabkan Rupiah tertekan.

Sementara itu, Tim Riset Wells Fargo mengatakan dalam analisisnya, dengan menyebutkan bahwa mereka meragukan laporan IHK bulan Februari akan memberikan kepercayaan diri bagi FOMC untuk mulai menurunkan suku bunga. Kemudian, mereka juga memprakirakan perkembangan disinflasi akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, namun berpikir bahwa FOMC perlu melihat perkembangan itu untuk mempercayainya. Menurut tim riset tersebut, pemangkasan suku bunga pertama dari FOMC terlihat semakin mungkin terjadi pada musim panas ini. 

Bank Indonesia (BI) baru saja merilis Laporan Survei Konsumen untuk bulan Februari hari ini. Data tersebut tercatat di 123,1, lebih lemah dari diprakirakan 126, dan juga lebih rendah dari angka pada bulan sebelumnya di 125. Angka ini merupakan yang terlemah dari bulan Oktober 2023 lalu. Menurut laporan BI, Survei Konsumen ini menunjukkan bahwa optimisme konsumen masih kuat, hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2024 yang berada dalam zona optimis (>100). Penguatan yang stabil pada keyakinan konsumen untuk Februari 2024 didorong oleh Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang meningkat dan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tetap optimis.

Data penting selanjutnya yang akan dipantau dari Amerika Serikat pada hari Kamis, adalah Penjualan Ritel untuk bulan Februari, yang diproyeksikan akan meningkat ke 0,8, dari sebelumnya yang tercatat di -0,8%. Data tersebut akan dirilis bersamaan dengan Indeks Harga Produsen (IHP) untuk periode yang sama. Data IHP diprakirakan akan tetap stabil di 0,3%. 

Analisis USD/IDR: Harus Melampaui 15.557 untuk Melanjutkan Penurunan

Setelah anjlok pada hari Jumat lalu (8/3/2024) dan menembus di bawah level Fibonacci Retracement 50% yang ditarik dari terendah Desember di 15.379 hingga tertinggi 26 Januari di 15.844, penurunan harga USD/IDR sempat tertahan oleh garis support di 15.585 sebelum mencapai level Fibonacci Retracement 61,8% di 15.557. Bila penguatan Dolar AS terus menekan Rupiah, harga bisa berbalik ke atas untuk menguji level Fibonacci Retracement 50% di 15.612 sebelum ke level resistance di 15.630. Sebaliknya bila penurunan terus berlanjut, dan menembus di bawah level Fibonacci Retracement 61,8% yang disebutkan, harga bisa bergerak menuju level support horizontal di 15.540 dan 15.515 menjelang level Fibonacci Retracement 78,6% di 15.480.

Grafik Harian USD/IDR

 

Harga Emas Konsolidasi Penurunan yang Pasca IHK AS pada Hari Selasa, Bertahan di Atas Level $2.150

Harga emas (XAU/USD) menarik beberapa aksi beli selama sesi Asia pada hari Rabu dan membalik sebagian aksi ambil untung pada hari sebelumnya ke area $2.150, atau level terendah mingguan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak lebih tinggi pada hari Selasa setelah inflasi konsumen AS untuk bulan Februari sedikit lebih tinggi dari yang diharapkan, yang, pada gilirannya, mendorong Dolar AS (USD) dan menekan turun komoditas ini. Selain itu, berlanjutnya kenaikan di pasar ekuitas AS juga turut mendorong aru
আরও পড়ুন Previous

WTI Turun Tipis Mendekati $77,70 Meskipun Prospek OPEC untuk Permintaan Global Kuat

Harga minyak West Intermediate Texas (WTI) turun tipis mendekati $77,70 per barel selama jam-jam perdagangan Asia hari Rabu. Namun, harga minyak mentah dapat menerima dukungan kenaikan karena prospek permintaan global yang kuat. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap pada perkiraannya untuk pertumbuhan permintaan minyak global yang relatif kuat pada tahun 2024 dan 2025.
আরও পড়ুন Next