Batu Bara ICE Newcastle Stabil di 135,80, Trump akan Bertemu Xi Jinping

  • Batu Bara ICE Newcastle belum membuat kemajuan setelah kemarin sedikit turun.
  • Presiden AS, Donald Trump, fokus pada pertemuan dengan Presiden Tiongkok.
  • Dirjen Minerba melakukan coaching clinic penyusunan RKAB.

Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 135,80 yang belum berubah pada basis harian pada saat berita ini ditulis. Batu bara ini tampak mengambil napas setelah kemarin sempat turun ke 135,00 di tengah absennya informasi terbaru dari Timur Tengah yang biasanya menjadi penggerak harga komoditas-komoditas energi dalam beberapa minggu ke belakang.

Dari sisi tren, batu bara ini dalam tren naik karena berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Namun demikian, momentum bullish terlihat tidak terlalu kuat mengingat indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 52,85 tidak membuat kemajuan apa pun dekat dengan level netral 50.

Cuaca di pelabuhan Newcastle Australia diprakirakan berawan dengan peluang hujan ringan. Keadaan tersebut diprakirakan tidak mengganggu proses pemuatan baru bara. Namun demikian, tetap perlu diperhatikan apakah hujan tersebut dapat menganggu jadwal pengiriman yang pada akhirnya bisa memengaruhi harga komoditas ini di pasar.

Tidak ada kabar baru dari Timur Tengah mengingat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akan bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, selama Kamis dan Jumat di Tiongkok. Presiden Trump akan lebih menitikberatkan pembicaraan soal perdagangan daripada perang Iran dalam pertemuan ini.

Dengan demikian, Selat Hormuz praktis tidak bisa dilewati dengan bebas dan belum ada tanda-tanda kapan bisa dibuka dalam waktu dekat yang pada akhirnya gangguan distribusi minyak dan gas alam berlanjut. Batu bara yang menjadi alternatif gas untuk pembangkit listrik juga dapat tetap diuntungkan dari peningkatan permintaan.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 179.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $106,57 naik dari $103,43
  • Batubara I (5.300 GAR) $79,56 naik dari $77,71
  • Batubara II (4.100 GAR) $55,66 naik dari $52,84
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,76 naik dari $38,30

Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan kembali coaching clinic penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang fokus pada komoditas batu bara yang dihadiri oleh 100 perusahaan pertambangan pada hari kemarin.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara, Asep Kurnia Permana, mengatakan bahwa, "Kami berharap setiap kendala dalam penyusunan dokumen dapat teratasi dengan baik, sehingga RKAB yang diajukan oleh badan usaha pertambangan batubara dapat memenuhi seluruh standar yang ditetapkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan". Menurut beliau, hal tersebut agar RKAB bisa disetujui dan menjadi patokan dalam kegiatan pertambangan di lapangan.

Dalam acara ini diberikan pendampingan dalam penyusunan aspek-aspek utama dalam penyusunan RKAB yang di antaranya adalah teknis, lingkungan, keselamatan pertambangan, finansial, serta rencana produksi, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Pejabat ECB, Muller: Solusi Cepat Hormuz Dibutuhkan untuk Bertahan pada Bulan Juni

Pengambil kebijakan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB), Madis Muller, mengatakan pada hari Rabu bahwa penyelesaian cepat di Selat Hormuz diperlukan agar ECB dapat mempertahankan suku bunga tidak berubah pada bulan Juni
Đọc thêm Previous

Pembalikan Euro terhadap Pound Inggris mendekati 0,8650 setelah data Zona Euro yang lemah

Euro (EUR) menunjukkan salah satu kinerja terlemah di antara mata uang G8 pada hari Rabu, dan memperpanjang pembalikannya terhadap Pound Sterling (GBP) ke level mendekati 0,8650 pada saat berita ini ditulis, setelah gagal menembus area 0,8700 pada hari Selasa
Đọc thêm Next